Tuesday, September 11, 2012

Bu Wiwi & Pak Tamim.




Akhirnya,  
10 bersaudara bintang Al-Qur'an 

buku dari seberang (Indonesia) ini sudah ada dalam tangan. Menambah koleksi buku yang sedia ada.

Buku yang berkongsi pengalaman, berbagi kisah nyata pasangan ibu Wiwi (Wirianingsih) dan Pak Tamim (Mutamimul 'Ula) yang bukan saja berhasil membesarkan anak mereka menjadi penghafal Al-Qur'an bahkan tumbuh cemerlang dalam akademik.

Dua sosok manusia yang buat aku kagum.
 
Kadang aku terfikir "Harus macam mana nanti mahu mendidik, mengasuh, menjaga, membesar anak-anak sendiri nanti?"

Dan buku tulisan Izzatul Jannah ini terusan menjadi inspirasi. Masakan tidak. Satu atau dua putra hafal dan faham Al-Qur'an mungkin biasa bagi aku, tapi sepuluh putra-putri seluruhnya? Luar biasa aku kira. Nyata buku ini aku fikir bacaan penting dan mesti ada dalam koleksi peribadi!



Bahagaian #1 buku ini berbagi kisah seputar komitmen dan tekad bu Wiwi dan Pak Tamim untuk melahirkan bintang yang tumbuh segar dengan Al-Qur'an


Dalam kesibukkan seperti apa pun, tidak sekali di jadikan alasan bu Wiwi dan Pak Tamim untuk culas dan bermalasan dalam mendidik dan membina generasi yang menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan hidup seharian.

Ini aku mahu kongsi sikit sebahagian kata Wirianingsih dan Mutamimul 'Ula. Harapnya kalian yang baca mampu rasa termotivasi untuk turut jadi sebahagian manusia yang mampu menghafal Al-Qur'an satu hari nanti. Tidak mahukah terpilih menjadi sebahagian keluarga Al-Qur'an?

Mahu tahu lebih jelas dan lanjut. Beli terus bukunya. =)
__________________________________________________________________________________

11 orang putra-putri yang berkualiti.
 

"Putra-putri Bu Wiwi & Pak Tamim yang berjumlah sebelas (seorang telah meninggal masa kecil) : 7 lelaki dan 4 perempuan seluruhnya di awali masa kanak-kanak mereka dengan berinteraksi bersama Al-Qur'an Pasangan ini secara sistematis telah merancang kurikulum berbasis Al-Qur'an bagi putra-putrinya."
pg: 21 


"Visi tentang Al-Qur'an tidak begitu saja muncul pada pasangan ini. Visi tersebut telah di bangun dan di internalisasi bahkan sejak mereka belum menikah". pg: 23

"Cita-citanya (bu Wiwi) untuk mewujudkan keluarga yang mampu menginspirasi dan menjadi teladan bagi masyarakat tertanam begitu kuat dan dalam." pg: 23



"Ibunda Wiwi, Tresnaningsih, adalah orang pertama yang mengajarkan Wiwi kecil untuk membaca Al-Qur'an." pg: 25


"Bapa Wiwi pula, Pak Wage memberikan fasilitas rohani yang lain. Beliau mengundang seorang ustaz untuk mengajarkan Al-Qur'an kepada Wiwi, mendirikan madrasah dan yayasan sehingga Wiwi melihat sendiri betapa ayah dan bundanya memberikan fasilitas rohani lengkap bagi pertumbuhan jiwanya." pg: 26


"Keyakinan, kepahaman, konsistensi amaliah, kesinambungan usaha, doa dan kesabaran adalah kunci dari usaha Wiwi dan suaminya untuk menjadikan anak-anaknya para penghafal Al-Qur'an." pg: 29


"Sang ayah haruslah seseorang yang memiliki visi besar tentang pendidikan dan ibunyalah yang akan menjalankan misinya, mengisi kerangkanya." pg: 30




Himmaty, putri bongsu yang kini sudah hafal 2 Juz Al-Qur'an
_________________________________________________________________________________

Pak Tamim meyakini Al-Qur'an itu tidak hanya sekadar hafalan di tubir mulut, bahkan harus diamalkan, diperjuangkan, didakwahkan dan diwujudkan dalam sebuah senarai peradaban.


"Di tengah kesibukan, Wiwi masih sempat mengundang anak-anak tetangganya untuk belajar Al-Qur'an. Tetangga adalah saudara terdekat, sedikit banyak tentu akan mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak-anaknya. Sebelum anak-anak saudara terdekat itu memberikan pengaruh tidak sesuai dengan visi, misi dan konsep keluarga yang diyakininya, Wiwi segera menebar pengaruh kepad mereka. Pengaruh yang berbasis dari Al-Qur'an." pg: 32

___________________________________________________________________________________

Keseimbangan proses jadi kunci keberhasilan bu Wiwi dan Pak Tamim



"Tanamlah kebiasaan (habit) maka engkau akan menuai takdir. Berinteraksi dengan Al-Qur'an berhasil di tanamkan sebagai kebiasaan putra-putri mereka sehingga takdir menjadi para penghafal Al-Qur'an menjadi hak mereka." pg: 43



Pak Tamim (Mutamimul 'Ula)

_________________________________________________________________________________

Bermula dengan visi yang terarah jelas dan utuh, Pasangan ini mahu kesemua putra-putri mereka tumbuh sebagai penghafal Al-Qur'an. Nyata bagi aku, itu satu impian yang mengunung dan cita-cita penuh tinggi!

Bu Wiwi dan Pak Tamim mengembangkan impian mereka bersama dengan misi yang sistematis dan berstrategi:

#1 Anak-anak harus mampu membaca Al-Qur'an yang memadai pada usia sebelum sekolah dasar (Rendah)

#2 Anak-anak harus tumbuh kemaunnya untuk berinteraksi secara intensif dengan Al-Qur'an 

#3 Orang tua harus memelihara kemauan dan kemampuan untuk konsisten terhadap visi.

#4 Orang tua harus menjaga stabilitas anak-anak dalam menghafal Al-Qur'an.

#5 Orang tua harus mampu menjadi teladan dalam berinteraksi dan mengimplementasikan amal-amal Qur'ani

#6 Orang tua harus mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk menghafal Al-Qur'an

Bu Wiwi (Wirianingsih). (Kredit)
_________________________________________________________________________________


Saya tidak melewatkan masa-masa penting usia emas perkembangan anak. Saya selalu berdoa setiap hari, setiap saat, dari anak kesatu hingga samapai anak kesepuluh, agar mereka menjadi generasi unggul. - Bu Wiwi


Pada saat usia anak masih batita, Wiwi senantiasa membaca Al-Qur'an dekat mereka. Ketika usia mereka balita (bawah 5 tahun), Wiwi sendiri yang mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur'an kepada mereka dengan metode belajar sambil bermain, satu hari satu huruf Al-Qur'an. pg: 53

Setiap hari ada program duduk satu jam bersama Al-Qur'an. pg: 61

Anak-anak harus belajar Al-Qur'an pertama kali dari saya - Bu Wiwi pg: 66

Awalnya kalau saya tilawah, saya ambil posisi dekat dengan anak-anak. pg: 67

Saat mulai usia 4 tahun, saya ajari mereka a ba ta tsa. Sambil mereka bermain dan berlari-lari, saya ajarkan satu hari satu huruf Al-Qur'an. pg: 68


__________________________________________________________________________________
 
Prinsip pembiasaan & konsistensi menjadi pegangan pasangan ini.


Sabar bukanlah kata pasif yang berarti pasrah dan menyerah, tetapi sabar adalah kata aktif yang bermakna usaha yang terus-menerus sepanjang hayat masih di kurniakan. 

pg: 64

Bukankah itu adalah kesabaran? Kegigihan menahan beban karena keyakinan akan tujuan yang mulia. pg:64

Jadikan anakmu 'raja' pada tujuh tahun pertama, didik dan disiplinkan mereka pada tujuh tahun kedua, dan jadikanlah mereka teman pada tujuh tahun berikutnya. pg:66


"Ya Allah, jadikanlah kami, anak-anak kami, keluarga kami sebagai penghafal Al-Qur'an. Jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al-Qur'an dan kelazatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah dan larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al-Qur'an" 

_________________________________________________________________________________
p/s: Selalu lah berdoa, bermimpilah dengan cita yang tinggi, kemudian susuli dengan usaha praktikal yang konsisten dan sabar hingga tiba masanya menuai hasil.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis